Hari Ayah Sedunia

Selain hari Ibu ternyata da pula Hari Ayah yang dirayakan di beberapa negara dengan tanggal yang berbeda-beda. Hari ayah adalah hari untuk menghormati ayah. Sementara di Amerika, dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Turki, Pakistan, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong dalam Hari Ayah atau Father’s Day (dalam bahasa Inggris) dirayakan pada hari Minggu di pekan ke tiga bulan Juni, dan dirayakan hampir di seluruh dunia yang dimulai pada awal abad ke-12. Biasanya Hari Ayah dirayakan dengan pemberian hadiah kepada ayah dan kegiatan kekeluargaan.

Hari Ayah diadakan karena betapa besar dan berat tanggung jawab Ayah karena memikul tanggung jawab di dunia atas kehidupan anak dan istinya, juga tanggung jawab di akhirat atas mendidik anak dan istri. Selain semua itu juga Ayah adalah tulang punggung, sandaran, dan pelindung dalam sebuah rumah tangga. Ibu mempunyai istilah Surganya seorang anak di bawah kaki Ibu, yang artinya anak harus patuh terhadap Ibunya. Sedangkan Ayah adalah Surganya Ibu(Istri) di bawah kaki Ayah(Suami), yang artinya seorang Ibu/Istri harus patuh kepada Ayah/Suaminya. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Laki-laki Internasional atau International Men's Day (dalam bahasa Inggris) diperingati setiap bulan 19 November.

Di Indonesia sendiri Hari Ayah dirayakan pada tanggal 12 November, meskipun perayaannya tidak begitu populer seperti Hari Ibu. Karena seorang ayah disibukan oleh bekerja di kantor, berbeda seorang ibu terdapat profesi Ibu Rumah tangga sehingga keluarga bisa merayakannya, karena Ibu tidak disibukkan oleh pekerjaan kantor yang penuh dengan beban.

Peran ayah di zaman moderen

Peran ayah telah berubah dari masa ke masa, masa kini peran ayah sudah berkembang, mereka bukan saja orang yang hanya dapat bekerja mencari uang, namun sudah terlibat langsung dengan tugas-tugas yang dahulu hanya dilakukan oleh kaum ibu seperti mengantar sekolah anak, menyuapi anaknya yang baru bayi, bahkan sampai mengganti popok.

Berbagi tugas dalam keluarga adalah salah satu kegiatan ayah di masa kini guna mengurangi beban istri dan yang terpenting adalah membina hubungan emosional yang baik dengan anak dan istrinya.

Sebenarnya, peran ayah sudah dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam, Beliau adalah nabi islam yang bukan saja sebagai suami yang mencari nafkah, namun juga membantu istri dalam kehidupan sehari-hari. Beliau tidak ragu-ragu untuk mencuci baju dan mengurus anak.


Beberapa Keteladanan Nabi Muhammad dalam Keluarga :

1) Kesetiaan Nabi kepada Khadijah dan penghargaan atas jasa-jasanya

Dari Aisyah ra, beliau berkata: “Aku tidak pernah cemburu kepada istri-istri nabi melebihi kecemburuanku kepada Khadijah, padahal akau tidak pernah melihatnya sama sekali, akan tetapi Rasulullah seringkali menyebut-nyebutnya. Adakalanya beliau menyembelih seekor kambing kemudian beliau memotong-motong dagingnya, lalu membagikan kepada teman-teman khadijah. Terkadang akau berkata kepada beliau, ‘seakan-akan tidak ada lagi wanita di dunia ini selain Khadijah’. Belaiu menjawab, “Ya, memang demikian adanya, dan dari Khadijahlah aku punya anak!”. (Mutafaq Alaih)

2) Kecintaan dan kasih sayang Nabi kepada keluarga.

Dari Abu Huraerah ra. Sesungguhnya Rasulullah mencium Al Hasan putra Ali, sementara Al Aqra’ bin Habis at Tamimi sedang duduk di samping beliau. Ia berkata, “wahai Rasulullah, aku punya sepuluh anak tidak pernah aku mencium salah seorang dari mereka.” Nabi meliriknya seraya bersabda, “Sesungguhnya siapa yang tidak menyayangi tidak akan disayangi”. (HR. Muslim).

3) Nabi menanamkan rasa cinta akhirat kepada keluarganya.

Dari Aisyah ra. “Sesungguhnya kami para istri Nabi sedang berkumpul di sisi beliau dan tidak ada seorangpun di antara kami yang tertinggal. Tiba-tiba datang Fatimah berjalan kaki. Demi Allah, tidak tersembunyi sedikitpun bahwa jalannya Fatimah sangat mirip dengan cara jalannya Rasulullah. Ketika Nabi melihatnya, beliau langsung mneyambutnya dengan ucapan, ‘selamat datang putriku!’. Lalu beliau mendudukan Fatimah di sebelah kanan atau kirinya. Kemudian Nabi membisikan sesuatu kepada Fatimah, maka Fatimahpun menangis sejadi-jadinya. Ketika Nabi melihat kesedihannya, beliau membisikan lagi kedua kalinya. Maka Fatimahpun tersenyum. Maka aku bertanya kepada Fatimah, ‘Rasulullah telah mengkhususkan mu di antara kami dengan bisikan, kemudian kamu menangis. Tatkala Rasulullah berdiri (pergi) aku berkata kepada Fatimah, ‘apa yang dibisikan Rasulullah kepadamu?’. Fatimah mengatakan, ‘aku tidak akan membuka rahasia Rasulullah’. Ketika Rasulullah wafat aku berkata kepada Fatimah, ‘aku telah bertekad untuk meminta hak ku dari kamu yang dulu kamu tidak memberitahukan kepadaku’. Fatimah berkata, ‘adapun sekarang, ya. Aku akan memberitahukan kepadamu. Adapun beliau membisikan kepadaku yang pertama, beliau memberitahukan kepadaku bahwa Jibril biasanya membacakan Al-Qur’an kepadaku satu kali dalam setahun, tetapi tahun ini ia membacakan Quran kepadaku dua kali. Maka aku melihat bahwa ajalku sudah dekat. Maka taqwalah kamu kepada Allah dna bersabarlah. Sesungguhnya sebaik-baik pendahulu bagimu adalah aku.’ Maka akupun menangis seperti yang kamu lihat. Ketika beliau melihat kesedihanku, beliau membisikanku kedua kalinya, ‘wahai Fatimah, apakah kamu tidak puas kamu menjadi pemimpin para wanita mu’min atau pemimpin wanita umat ini?”. (HR. Bukhari)

4) Nabi Shallallâhu alaihi wa sallam memberikan hak bersenang-senang dengan keluarganya

Dari Aisyah ra. “Rasulullah mengajaku berlomba lari. Aku berhasil mengalahkannya. Setelah beberapa lama ketika akau semakin gemuk, beliau mengajak ku beromba lagi dan beliau mengalahkanku. Beliau bersabda, ‘ini membalas yang dulu’.” (HR. Ahmad)

5) Nabi shallallâhu alaihi wa sallam membantu pekerjaan rumah tangga istri-istrinya.

Dari Al Aswad, aku bertanya kepada Aisyah, “Apa yang dilakukan Rasulullah pada keluarganya?” Aisyah menjawab, “Beliau senantiasa membantu melayani keluarganya, apabila telah datang waktu shalat beliaupun ke luar untuk shalat”. (HR. Bukhari)

6) Nabi shallallâhu alaihi wa sallam adalah seorang guru bagi keluarganya. Beliau mendidik keluarga dan umatnya segala sesuatu yang baik

Dari Salman, ra. Ia berkata, sebagian kaum musyrikin bertanya seraya mencemoohkannya, “Saya melihat sahabatmu (Nabi Muhammad) mengajari kalian segala sesuatu, sampai-sampai buang hajat?”. Salman berkata, “Ya, tentu. Beliau memerintah kami agar jangan menghadap ke kiblat (waktu buang hajat) dan melarang kami beristinja dengan tangan kanan, dan tidak beristinja kurang dari tiga batu yang bukan kotoran binatang dan bukan tulang”. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)


Sumber:
  • Wikipedia
  • http://www.infaqclub.com/read/artikel/266/keteladanan-nabi-muhammad-dalam-membina-keluarga/#.U50SiZSSxJg