Sejarah Kesultanan Bone (1300-Kini)

Kesultanan Bone adalah kerajaan Islam yang terletak di Sulawesi Selatan. Kerajaan ini didirikan pada tahun 1330 oleh Manurunge ri Matajang. Kesultanan Bone mencapai puncak kejayaannya pada pertengahan abad ke-17 di bawah pemerintahan Arung Palakka. 

Kerajaan Bone merupakan salah satu kerajaan besar di Nusantara yang memiliki pengaruh besar di Sulawesi Selatan dan wilayah Timur Nusantara. Kerajaan Bone menguasai areal sekitar 2600 km2, meliputi Bugis, Makassar, Mandar, dan lainnya.

Kerajaan Bone menganut sistem pemerintahan monarki. Sebutan raja sebagai kepala pemerintahan yang tertinggi disebut Mangkau. Mangkau bersama Ade Pitu menyusun struktur pemerintahan untuk memudahkan memberikan pelayanan kepada rakyat.

Kerajaan Bone selama kurang lebih empat abad lamanya, tampil memegang hegemoni kekuasaan di Sulawesi Selatan pasca Perjanjian Bongaya 1669. Sejak itu pula, Bone merupakan saingan terberat Kolonial Belanda dalam menanamkan pengaruh politiknya di Sulawesi Selatan.

Meski sempat menjadi penguasa utama di Sulawesi Selatan, Bone akhirnya berada di bawah kendali Belanda pada 1905.

Sejarah Kesultanan Bone (1300-Kini)
Bola Soba, rumah adat dari Sulawesi Selatan yang merupakan rumah bangsawan dari suku Bugis. Bola Soba juga merupakan rumah dari raja Bugis.

Sejarah Kesultanan Bone

Bukti sejarah berdirinya Kerajaan Bone sangat sedikit, hanya mengandalkan dari tulisan-tulisan kuno yang terdapat dalam lontara. Kerajaan Bone didirikan oleh Manurunge ri Matajang pada 1330 masehi.

Sejarah masuknya Islam ke Kerajaan Bone berawal ketika kerajaan ini tidak dianggap sederajat oleh Kesultanan Gowa. Kerajaan Bone baru akan dianggap setara apabila mau mengikuti Kesultanan Gowa memeluk agama Islam. Raja Bone menolak persyaratan tersebut sehingga timbul peperangan di antara dua kerajaan ini.

Dalam peperangan, Kerajaan Bone menyerah kalah dan akhirnya mau memeluk Islam yang kemudian diikuti oleh rakyatnya. Raja Bone pertama yang masuk Islam adalah La Tenriruwa, yang bergelar Sultan Adam (1611-1616 M). Sejak saat itu, Raja Bone dikenal giat mengajak rakyatnya untuk memeluk Islam.


Sistem pemerintahan

Dalam bidang politik dan pemerintahan, Kerajaan Bone sangat menjunjung tinggi nilai demokrasi atau kedaulatan rakyat. Sistem demokrasi ini dibuktikan dengan dibentuknya "Ade Pitue" atau tujuh orang pejabat rakyat yang bertindak sebagai penasehat raja. Selain itu, dalam penyelenggaraan pemerintahan kerajaan sangat mengedepankan azas kemanusiaan dan musyawarah.

Kerajaan Bone juga banyak memetik sari pati ajaran Islam dalam menghadapi kehidupan, perubahan, dan menjawab tantangan pembangunan.


Masa Kejayaan

Pada masa pemerintahan Arung Palakka (sultan ke-15 yang bertakhta antara 1672-1696 M) Kerajaan Bone mencapai puncak kejayaannya. Di bawah kekuasaannya, Kerajaan Bone mampu memakmurkan rakyatnya dengan potensi yang beragam seperti dalam bidang pertanian, perkebunan, dan kelautan.

Selain itu, kekuatan militernya semakin kuat, setelah belajar dari lemahnya pertahanan mereka saat kalah menghadapi Kerajaan Gowa. Setelah jatuhnya Kesultanan Gowa, Kerajaan Bone menjadi yang terkuat di seantero Sulawesi. Bahkan sultan yang berkuasa berhasil mengajak Kesultanan Luwu, Soppeng, dan sejumlah negara kecil lainnya untuk bersekutu.


Runtuhnya Kerajaan Bone

Kesultanan Bone mulai mengalami kemunduran setelah Sultan Ismail Muhtajuddin, raja ke-24 wafat pada 1823 M. Setelah itu, kekuasaan dilanjutkan oleh Arung Datu (1823-1835 M). Arung Datu berusaha merevisi Perjanjian Bongaya yang disepakati Kerajaan Gowa dan VOC, hingga akhirnya memicu kemarahan Belanda. Belanda kemudian meluncurkan serangan hingga berhasil menduduki Kerajaan Bone, sementara Arung Datu diasingkan. Dalam pengasingan, Arung Datu masih berupaya menyerang, tetapi usahanya selalu dapat ditumpaskan pasukan Belanda.


Peninggalan Kesultanan Bone

Peninggalan-peninggalan Kesultanan Bone disimpan di Museum La Pawawoi, yang dulunya merupakan istana Raja Bone A Mappanyukki. Museum ini terletak di Jalan MH Thamrin, Watampone.

Pada Januari 2022, 95% benda bersejarah yang disimpan di Museum Lapawawoi hilang. Benda-benda yang hilang antara lain duplikat rambut Raja Bone Arung Palakka, Stempel Kerajaan, Bosara, dan koin-koin kuno.

Tiga peninggalan sejarah di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, didorong untuk menjadi Objek Cagar Budaya. Ketiga peninggalan tersebut adalah:

  • Gua Uhalie di Desa Langi Kecamatan Bontocani
  • Makam We Mappalo Bombang di Desa Nagauleng, Kecamatan Cenrana
  • Saoraja Andi Mappanyukki 


Peninggalan Kesultanan Bone antara lain:

  • Duplikat rambut Raja Bone Arung Palakka
  • Stempel Kerajaan
  • Bosara
  • Koin-koin kuno
  • Keramik
  • Peralatan penyambutan tamu
  • Peralatan makan para bangsawan
  • Pusaka benda tajam
  • Peralatan pesta dan nikah